Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Sex. Tampilkan semua postingan

19 Januari 2010

Situs Porno Sudah Diakses Anak Usia 9-12 Tahun


Senin, 18/1/2010

18:37 WIB

KOMPAS.com - Kita mungkin memandang dengan penuh kasih anak-anak kita yang sedang tertidur pulas. Mereka seperti malaikat kecil yang tidak berdosa. Wajar kalau di usia 8 atau 9 tahun Anda masih menganggapnya anak-anak yang polos. Tetapi di balik keluguannya, anak-anak bisa jadi sudah tahu banyak hal yang tak akan Anda duga.

Data yang ditemukan oleh National Research Council pada tahun 2002, menunjukkan bahwa 20-30 persen anak berusia 8-17 tahun mengakses situs porno. Sedangkan hasil survei dari Indonesia tak jauh berbeda, bahkan lebih parah. Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek, menunjukkan bahwa 80 persen anak usia 9-12 telah mengakses materi pornografi dari media, terutama internet.

Keleluasaan anak dalam mengakses materi pornografi internet atau media lain, kebanyakan memang disebabkan kurangnya pengawasan di rumah akibat kedua orangtua sibuk bekerja. Bila Anda ingin tahu situs apa saja yang diakses anak, coba luangkan waktu untuk mengutak-atik komputer Anda. ''Cari tahu history situs yang mereka akses, atau file-file terakhir yang mereka unduh,'' terang psikolog keluarga dan remaja, Ratih Ibrahim, MM.

Anda tidak perlu langsung menyalahkan anak, teman-temannya, atau Anda sendiri yang kurang memperhatikan anak-anak. Kemungkinan anak memiliki keingintahuan yang besar mengenai berbagai hal, namun tidak mendapatkannya dari Anda. Mereka pun mencarinya lewat internet. Bukan tidak mungkin dengan sengaja atau tanpa sengaja mereka mengakses situs porno. Sebab kebanyakan situs tersebut gratis dan tidak memerlukan iuran keanggotaan.

Pria Ingin Bra dan Panty Anda Matching


Senin, 18/1/2010

14:18 WIB

KOMPAS.com - Counter pakaian dalam di department store umumnya menyediakan 1 set bra dan celana dalam (CD). Namun ternyata tidak semua perempuan memakai bra dan CD yang matching. Bisa saja bra yang dipakai dari merek terkenal, CD-nya merek abal-abal. Warna dan motifnya pun belum tentu sinkron. Bagi mereka, yang penting keduanya nyaman dipakai.



Ambil contoh Dede Ayu (31), yang mengaku tidak punya satu pun bra dan panty yang matching. "Soalnya kadang kalau beli, CD-nya enak dipakai, tapi bra-nya enggak. Atau sebaliknya," tutur karyawan sebuah perusahaan penerbitan ini.

Bagi perempuan yang lain, memakai bra dan CD yang matching justru suatu keharusan, atau setidaknya, selalu diusahakan matching. "Enggak pede kalau bra dan panty-nya belang-belonteng. Biasanya kalau beli bra saya tanya dulu ke counter pakaian dalamnya, ada CD-nya enggak? Kalau enggak ada, saya mencari bra lain yang ada pasangannya. Yang prioritas sih, bra-nya," seru Cynthia Dewi (31), seorang sekretaris.

Meskipun bra dan panty tentunya tidak terlihat saat Anda mengenakan pakaian lengkap, namun sebagian perempuan merasa hal tersebut mempengaruhi kenyamanan. "Walaupun dari luar enggak kelihatan, tapi di hati terasa nyaman. Jadi nambah pede aja," tukas Erika (29), staf marketing. "Tapi itu sugesti juga kali, ya?"

Ia sendiri sebenarnya tidak selalu mengenakan pasangan yang matching. Setelan yang 1 set dipakainya untuk acara tertentu, seperti menghadapi resepsi perkawinan, meeting, atau jalan-jalan resmi.

22 Desember 2009

Seks Terlalu Dini Berisiko Kanker Serviks


Senin, 21 Desember 2009 | 12:43 WIB
KOMPAS.com - Berbeda dengan keyakinan selama ini, dalam studi yang dilakukan oleh International Agency for Research on Cancer terhadap 20.000 wanita diketahui tingginya angka kanker serviks (leher rahim) tidak berhubungan dengan tingginya jumlah HPV (human papilloma virus).

Risiko kanker justru meningkat dua kali lipat pada wanita dari keluarga miskin yang melakukan hubungan seks pada usia sangat muda. Demikian menurut studi terbaru yang dipublikasikan dalam the British Journal of Cancer.
saat melahirkan untuk pertama kalinya juga berpengaruh pada risiko kanker serviks. Sayangnya para peneliti tidak memasukkan faktor jumlah pasangan seksual dan kebiasaan merokok.

"Nonton" Istri dengan Pria Lain


Senin, 14 Desember 2009 | 13:41 WIB
KOMPAS.com — Gara-gara menonton VCD porno, pria ini tertarik melakukan hubungan seks bertiga. Ternyata istrinya mau. Untuk selanjutnya istri mau memilih sendiri pria tambahannya. Celakanya, setelah itu sang istri meminta cerai karena menganggapnya mengalami kelainan seksual. Apakah pria ini mengalami kelainan?

"Saya umur 35 tahun, sedang mengalami masalah. Istri meninggalkan saya, menuntut cerai. Istri umur 28 tahun. Asal mulanya tidak ada masalah. Kami punya satu anak, ekonomi cukup, bahkan lebih baik dibandingkan kebanyakan orang di negara ini. Soal seks juga biasa saja. Istri kelihatannya bisa puas, saya juga.

Beberapa bulan lalu kami melakukan sesuatu yang bagi banyak orang mungkin aneh. Kami iseng nonton VCD porno. Lalu, iseng saya tanya kepada istri, apakah dia mau berhubungan dengan dua pria. Di luar dugaan, dia menjawab mau.

Lalu, saya mencari iklan di koran yang menawarkan pijat untuk pasutri. Selanjutnya berlangsunglah hubungan seks antara istri dan pria pemijat itu. Saya melihat mereka berhubungan meskipun ada perasaan kecewa karena istri mau melakukannya. Setelah pria itu pergi, saya dan istri melakukan juga.

Peristiwa itu jadi alasan istri untuk minta cerai. Istri mengatakan, saya mengalami kelainan. Saya bingung karena waktu saya tanya, istri mengatakan mau. Bahwa waktu saya tanya mau lagi atau tidak, dia bilang mau, tapi dia sendiri yang cari prianya.

Apa saya memang mengalami kelainan seks? Kalau ya, apakah istri tidak mengalami kelainan juga? Setelah peristiwa itu, kami biasa saja dalam berhubungan seks, sampai tiga bulan lalu istri menuntut cerai. Adakah orang lain yang melakukan seperti kami? Saya tidak mau cerai karena mencintai istri."
TN, Semarang


Tak dapat dipastikan
Kalau istri menganggap Anda mengalami kelainan seks, berarti dia juga mengalami kelainan seks. Bukankah istri setuju, bahkan berhubungan seks dengan pria itu walaupun Anda yang memulai?

Saya tidak berani mengatakan Anda mengalami kelainan seksual hanya berdasarkan surat Anda di atas. Kalau Anda mengalami kelainan seks berarti Anda harus terus atau sering melakukan perbuatan itu karena Anda hanya akan merasakan kepuasan kalau melakukan itu. Anda tidak seperti itu, bukan?

Di pihak lain, justru istri yang mengatakan mau melakukan lagi asal dia yang mencari prianya. Jadi, saya tidak akan mengatakan apakah Anda atau istri mengalami kelainan seks hanya berdasarkan cerita singkat Anda. Namun, saya ingin katakan bahwa perbuatan itu dapat menjadi suatu masalah bagi hubungan pribadi Anda dan istri.

Beberapa kemungkinan dapat terjadi akibat perbuatan itu. Pertama, Anda menganggap istri bukan istri yang setia dalam hal seks. Kedua, mungkin Anda merasa tak mampu seperti pria itu kalau istri Anda lebih puas dengan dia daripada Anda. Ketiga, mungkin fungsi seksual Anda jadi terganggu kalau Anda terus teringat adegan istri berhubungan dengan pria itu. Keempat, risiko penularan infeksi kelamin.

Saya tidak tahu, bahkan menduga pun tidak mampu, mengapa istri tiba-tiba meminta cerai dengan alasan Anda mengalami kelainan seks. Padahal, dia menyetujui dan melakukan hubungan seks dengan pria itu. Kecuali kalau sebenarnya istri tidak bersedia, tapi karena takut kepada Anda, akhirnya dia terpaksa melakukan perbuatan itu.

Kalau Anda bertanya apakah ada orang lain yang melakukan perbuatan seperti itu, jawaban saya "ada" walaupun tidak dengan pria pemijat yang mengiklankan diri. Perubahan persepsi tentang seks telah mengubah perilaku seksual manusia. Perilaku seksual yang dulu sulit diterima, kini mungkin saja terjadi, tentu dengan segala risikonya.

Konsultasi dijawab oleh Prof Dr Wimpie Pangkahila, Sp And

 

Editor: Anna  
Sumber : www.gayahidupsehatonline.com