Senin, 18/1/2010
19:45 WIB
KOMPAS.com - Bagi Ellen Barret, penulis buku Sexy Yoga, gerakan-gerakan yoga tidak hanya mampu melepaskan tubuh kita dari stres. Sebab gerakan-gerakan yoga menjaga fleksibilitas tubuh kita yang kemudian memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Aliran darah inilah yang kita butuhkan untuk "menghangatkan" hubungan seksual dengan pasangan.
Journal of Sexual Medicine memperkuat pernyataan Barret. Dalam jurnal ini disebutkan, perempuan membutuhkan mood yang terjaga agar hubungan seksual tidak terasa membosankan. Dan yoga menyempurnakan keseimbangan emosi dengan kelenturan tubuh. Terdengar menggiurkan, bukan? Cobalah gerakan-gerakan berikut ini.
Cat/Cow Stretch
Dengan posisi berlutut, letakkan kedua tangan di depan dengkul, dan kepala menghadap lurus ke depan. Seraya menarik napas, perlahan turunkan pinggul ke bawah (cow) hingga dada terdorong ke depan. Saat melakukan gerakan ini, pastikan tulang ekor mengarah ke atas. Sambil mengembuskan napas, angkat punggung ke atas (cat) dan perlahan-lahan biarkan perut berkontraksi. Pastikan saat gerakan ini, kepala menghadap ke bawah. Lalu kembali ke posisi awal.
Lakukan gerakan ini sebanyak 6 kali. Gerakan ini bermanfaat untuk menguatkan otot-otot kegel kita. Barrett menjelaskan, otot-otot kegel adalah otot yang berkontraksi saat kita orgasme.
Tampilkan postingan dengan label info kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info kesehatan. Tampilkan semua postingan
19 Januari 2010
Pria Ingin Bra dan Panty Anda Matching
Senin, 18/1/2010
14:18 WIB
KOMPAS.com - Counter pakaian dalam di department store umumnya menyediakan 1 set bra dan celana dalam (CD). Namun ternyata tidak semua perempuan memakai bra dan CD yang matching. Bisa saja bra yang dipakai dari merek terkenal, CD-nya merek abal-abal. Warna dan motifnya pun belum tentu sinkron. Bagi mereka, yang penting keduanya nyaman dipakai.
Ambil contoh Dede Ayu (31), yang mengaku tidak punya satu pun bra dan panty yang matching. "Soalnya kadang kalau beli, CD-nya enak dipakai, tapi bra-nya enggak. Atau sebaliknya," tutur karyawan sebuah perusahaan penerbitan ini.
Bagi perempuan yang lain, memakai bra dan CD yang matching justru suatu keharusan, atau setidaknya, selalu diusahakan matching. "Enggak pede kalau bra dan panty-nya belang-belonteng. Biasanya kalau beli bra saya tanya dulu ke counter pakaian dalamnya, ada CD-nya enggak? Kalau enggak ada, saya mencari bra lain yang ada pasangannya. Yang prioritas sih, bra-nya," seru Cynthia Dewi (31), seorang sekretaris.
Meskipun bra dan panty tentunya tidak terlihat saat Anda mengenakan pakaian lengkap, namun sebagian perempuan merasa hal tersebut mempengaruhi kenyamanan. "Walaupun dari luar enggak kelihatan, tapi di hati terasa nyaman. Jadi nambah pede aja," tukas Erika (29), staf marketing. "Tapi itu sugesti juga kali, ya?"
Ia sendiri sebenarnya tidak selalu mengenakan pasangan yang matching. Setelan yang 1 set dipakainya untuk acara tertentu, seperti menghadapi resepsi perkawinan, meeting, atau jalan-jalan resmi.
14:18 WIB
KOMPAS.com - Counter pakaian dalam di department store umumnya menyediakan 1 set bra dan celana dalam (CD). Namun ternyata tidak semua perempuan memakai bra dan CD yang matching. Bisa saja bra yang dipakai dari merek terkenal, CD-nya merek abal-abal. Warna dan motifnya pun belum tentu sinkron. Bagi mereka, yang penting keduanya nyaman dipakai.
Ambil contoh Dede Ayu (31), yang mengaku tidak punya satu pun bra dan panty yang matching. "Soalnya kadang kalau beli, CD-nya enak dipakai, tapi bra-nya enggak. Atau sebaliknya," tutur karyawan sebuah perusahaan penerbitan ini.
Bagi perempuan yang lain, memakai bra dan CD yang matching justru suatu keharusan, atau setidaknya, selalu diusahakan matching. "Enggak pede kalau bra dan panty-nya belang-belonteng. Biasanya kalau beli bra saya tanya dulu ke counter pakaian dalamnya, ada CD-nya enggak? Kalau enggak ada, saya mencari bra lain yang ada pasangannya. Yang prioritas sih, bra-nya," seru Cynthia Dewi (31), seorang sekretaris.
Meskipun bra dan panty tentunya tidak terlihat saat Anda mengenakan pakaian lengkap, namun sebagian perempuan merasa hal tersebut mempengaruhi kenyamanan. "Walaupun dari luar enggak kelihatan, tapi di hati terasa nyaman. Jadi nambah pede aja," tukas Erika (29), staf marketing. "Tapi itu sugesti juga kali, ya?"
Ia sendiri sebenarnya tidak selalu mengenakan pasangan yang matching. Setelan yang 1 set dipakainya untuk acara tertentu, seperti menghadapi resepsi perkawinan, meeting, atau jalan-jalan resmi.
Label:
info kesehatan,
info sex,
Kesehatan Sex
13 Januari 2010
8 Cara Meninggalkan Rokok
Jadi Anda berniat untuk berhenti merokok tapi tak tahu alasannya? "Karena rokok merugikan kesehatan," bukan alasan yang cukup. Untuk mendapatkan motivasi yang besar, Anda perlu alasan yang bersifat personal dan kuat. Misalnya saja karena Anda ingin melindungi keluarga dari bahaya perokok pasif. Atau ancaman kanker paru-paru menakutkan bagi Anda. Atau barangkali Anda ingin terlihat lebih muda. Yang pasti, pilih alasan yang kuat agar lebih mudah mengucapkan selamat tinggal pada rokok.
1. Dapatkan dukungan
Katakan pada keluarga dan teman-teman bahwa Anda berniat keluar dari jeratan asap rokok. Dukungan dari mereka akan meningkatkan semangat Anda. Bila perlu untuk sementara Anda tidak bergabung dulu dengan teman-teman perokok.
2. Atur stres
Salah satu alasan orang untuk merokok adalah nikotin membantu mereka lebih rileks. Bila Anda berhenti dari rokok, maka Anda butuh pelarian lain untuk menghadapi stres. Mencoba pijat, mendengarkan musik, atau mendalami hobi, bisa jadi pelarian yang bersifat positif. Hindari situasi yang menimbulkan stres beberapa minggu pertama setelah Anda berhenti merokok.
3. Hindari kopi
Beberapa aktivitas bisa mendorong Anda untuk merokok. Alkohol dan kopi adalah pemicu yang paling kuat untuk merokok. Bila biasanya Anda merokok setelah makan, kini cobalah kegiatan lain, seperti menyikat gigi atau mengunyah permen.
1. Dapatkan dukungan
Katakan pada keluarga dan teman-teman bahwa Anda berniat keluar dari jeratan asap rokok. Dukungan dari mereka akan meningkatkan semangat Anda. Bila perlu untuk sementara Anda tidak bergabung dulu dengan teman-teman perokok.
2. Atur stres
Salah satu alasan orang untuk merokok adalah nikotin membantu mereka lebih rileks. Bila Anda berhenti dari rokok, maka Anda butuh pelarian lain untuk menghadapi stres. Mencoba pijat, mendengarkan musik, atau mendalami hobi, bisa jadi pelarian yang bersifat positif. Hindari situasi yang menimbulkan stres beberapa minggu pertama setelah Anda berhenti merokok.
3. Hindari kopi
Beberapa aktivitas bisa mendorong Anda untuk merokok. Alkohol dan kopi adalah pemicu yang paling kuat untuk merokok. Bila biasanya Anda merokok setelah makan, kini cobalah kegiatan lain, seperti menyikat gigi atau mengunyah permen.
Atasi Leukoplakia, dari Terapi sampai Pembedahan
Rabu, 13 Januari 2010
10:51 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Kelainan di rongga mulut atau leukoplakia umumnya tidak menimbulkan kerusakan yang serius pada jaringan mulut. Pada beberapa kasus, leukoplakia hanya akan menimbulkan peradangan yang membuat penderita merasa tak nyaman.
Meski begitu, penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Jika sudah terjadi komplikasi, penyakit ini bisa menjadi awal timbulnya penyakit yang lebih serius, yakni kanker mulut. Kelainan ini akan cepat menjadi kanker mulut jika penderita leukoplakia kekurangan asupan vitamin.
Kanker mulut ini akan mulai terbentuk di sekitar bercak leukoplakia sebelum kemudian menyebar dan semakin menadi besar. Untuk memantau apakah leukoplakia sudah berubah menjadi kanker mulut, biasanya dokter akan melihat bercak tersebut.
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti yang juga dokter gigi Tri Erri Astoeti mengatakan, untuk memastikan leukoplakia ganas atau tidak, atau bahkan sudah menjadi kanker atau belum, ia memerlukan tes sampel sel atau sering dikenal dengan istilah biopsi.
"Bila ditemukan tanda-tanda keganasan, akan dilakukan terapi pembedahan, seperti halnya dalam kasus kanker mulut," ujarnya.
10:51 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Kelainan di rongga mulut atau leukoplakia umumnya tidak menimbulkan kerusakan yang serius pada jaringan mulut. Pada beberapa kasus, leukoplakia hanya akan menimbulkan peradangan yang membuat penderita merasa tak nyaman.
Meski begitu, penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Jika sudah terjadi komplikasi, penyakit ini bisa menjadi awal timbulnya penyakit yang lebih serius, yakni kanker mulut. Kelainan ini akan cepat menjadi kanker mulut jika penderita leukoplakia kekurangan asupan vitamin.
Kanker mulut ini akan mulai terbentuk di sekitar bercak leukoplakia sebelum kemudian menyebar dan semakin menadi besar. Untuk memantau apakah leukoplakia sudah berubah menjadi kanker mulut, biasanya dokter akan melihat bercak tersebut.
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti yang juga dokter gigi Tri Erri Astoeti mengatakan, untuk memastikan leukoplakia ganas atau tidak, atau bahkan sudah menjadi kanker atau belum, ia memerlukan tes sampel sel atau sering dikenal dengan istilah biopsi.
"Bila ditemukan tanda-tanda keganasan, akan dilakukan terapi pembedahan, seperti halnya dalam kasus kanker mulut," ujarnya.
Wahai Perokok, Awas Ancaman Leukoplakia!
Rabu, 13 Januari 2010
11:34 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Anda perokok berat dan sekaligus penyuka minuman keras? Berhati-hatilah! Kebiasaan ini membuat Anda menghadapi risiko besar terserang penyakit leukoplakia.
Dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur, Juliani Kusumaputra Isbandiono, menyatakan, asap rokok dapat menyebabkan iritasi pada rongga-rongga mulut.
"Iritasi itu kemudian mempermudah senyawa kimia berbahaya yang terkandung di dalam tembakau untuk masuk ke dalam jaringan di mulut dan terjadilah leukoplakia," ujar dia.
Bahkan, hasil penelitian Silverman S Jr, seorang dokter di Kanada, sudah mengukuhkan teori tersebut. Menurutnya, sebanyak 95 persen penderita leukoplakia adalah perokok.
Bahaya ini juga menghampiri penenggak minuman beralkohol. Senyawa kimia berbahaya yang terkandung di dalam alkohol mudah masuk ke dalam jaringan di mulut.
Oleh karena itu, umumnya, dokter menyarankan pasien leukoplakia untuk berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol. Jika menaati larangan ini, penderita gangguan leukoplakia akan lebih cepat pulih.
11:34 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Anda perokok berat dan sekaligus penyuka minuman keras? Berhati-hatilah! Kebiasaan ini membuat Anda menghadapi risiko besar terserang penyakit leukoplakia.
Dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur, Juliani Kusumaputra Isbandiono, menyatakan, asap rokok dapat menyebabkan iritasi pada rongga-rongga mulut.
"Iritasi itu kemudian mempermudah senyawa kimia berbahaya yang terkandung di dalam tembakau untuk masuk ke dalam jaringan di mulut dan terjadilah leukoplakia," ujar dia.
Bahkan, hasil penelitian Silverman S Jr, seorang dokter di Kanada, sudah mengukuhkan teori tersebut. Menurutnya, sebanyak 95 persen penderita leukoplakia adalah perokok.
Bahaya ini juga menghampiri penenggak minuman beralkohol. Senyawa kimia berbahaya yang terkandung di dalam alkohol mudah masuk ke dalam jaringan di mulut.
Oleh karena itu, umumnya, dokter menyarankan pasien leukoplakia untuk berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol. Jika menaati larangan ini, penderita gangguan leukoplakia akan lebih cepat pulih.
Berhentilah Mengkhawatirkan Kesehatan!
Rabu, 13 Januari 2010
09:36 WIB
KOMPAS.com — Hampir setiap hari kepala kita dijejali oleh berbagai nasihat penting tentang kesehatan. Mulai dari pentingnya olahraga, tidur cukup, hingga konsumsi lima macam buah setiap hari. Sayangnya, hanya sedikit orang yang mempraktikkan apa yang sudah didengarnya.
Dr Susan M Love, pakar kesehatan perempuan, dalam bukunya, Live a Little! Breaking the Rules Won’t Break Your Health, mengatakan, menjalankan semua petuah tentang kesehatan adalah tidak mungkin. "Lagi pula, sebagian besar dari kita sudah sehat, lebih dari apa yang kita duga," ujarnya.
Karena itulah, Susan menawarkan aturan baru dalam gaya hidup sehat: berhenti mengkhawatirkan kesehatan. Ia mengatakan, menjalankan semua aturan kesehatan justru bisa menimbulkan stres dan rasa bersalah. "Bagi sebagian besar masyarakat, 'cukup sehat' sudah ideal," kata dokter spesialis bedah ini.
"Apa yang Anda cari dari hidup sehat yang Anda jalani, apakah untuk hidup selamanya?" tanyanya. Yang paling penting adalah hidup selama yang kita bisa dengan kualitas hidup yang baik, lanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)





