Senin, 18/1/2010
19:45 WIB
KOMPAS.com - Bagi Ellen Barret, penulis buku Sexy Yoga, gerakan-gerakan yoga tidak hanya mampu melepaskan tubuh kita dari stres. Sebab gerakan-gerakan yoga menjaga fleksibilitas tubuh kita yang kemudian memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Aliran darah inilah yang kita butuhkan untuk "menghangatkan" hubungan seksual dengan pasangan.
Journal of Sexual Medicine memperkuat pernyataan Barret. Dalam jurnal ini disebutkan, perempuan membutuhkan mood yang terjaga agar hubungan seksual tidak terasa membosankan. Dan yoga menyempurnakan keseimbangan emosi dengan kelenturan tubuh. Terdengar menggiurkan, bukan? Cobalah gerakan-gerakan berikut ini.
Cat/Cow Stretch
Dengan posisi berlutut, letakkan kedua tangan di depan dengkul, dan kepala menghadap lurus ke depan. Seraya menarik napas, perlahan turunkan pinggul ke bawah (cow) hingga dada terdorong ke depan. Saat melakukan gerakan ini, pastikan tulang ekor mengarah ke atas. Sambil mengembuskan napas, angkat punggung ke atas (cat) dan perlahan-lahan biarkan perut berkontraksi. Pastikan saat gerakan ini, kepala menghadap ke bawah. Lalu kembali ke posisi awal.
Lakukan gerakan ini sebanyak 6 kali. Gerakan ini bermanfaat untuk menguatkan otot-otot kegel kita. Barrett menjelaskan, otot-otot kegel adalah otot yang berkontraksi saat kita orgasme.
Tampilkan postingan dengan label info sex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info sex. Tampilkan semua postingan
19 Januari 2010
Situs Porno Sudah Diakses Anak Usia 9-12 Tahun
Senin, 18/1/2010
18:37 WIB
KOMPAS.com - Kita mungkin memandang dengan penuh kasih anak-anak kita yang sedang tertidur pulas. Mereka seperti malaikat kecil yang tidak berdosa. Wajar kalau di usia 8 atau 9 tahun Anda masih menganggapnya anak-anak yang polos. Tetapi di balik keluguannya, anak-anak bisa jadi sudah tahu banyak hal yang tak akan Anda duga.
Data yang ditemukan oleh National Research Council pada tahun 2002, menunjukkan bahwa 20-30 persen anak berusia 8-17 tahun mengakses situs porno. Sedangkan hasil survei dari Indonesia tak jauh berbeda, bahkan lebih parah. Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek, menunjukkan bahwa 80 persen anak usia 9-12 telah mengakses materi pornografi dari media, terutama internet.
Keleluasaan anak dalam mengakses materi pornografi internet atau media lain, kebanyakan memang disebabkan kurangnya pengawasan di rumah akibat kedua orangtua sibuk bekerja. Bila Anda ingin tahu situs apa saja yang diakses anak, coba luangkan waktu untuk mengutak-atik komputer Anda. ''Cari tahu history situs yang mereka akses, atau file-file terakhir yang mereka unduh,'' terang psikolog keluarga dan remaja, Ratih Ibrahim, MM.
Anda tidak perlu langsung menyalahkan anak, teman-temannya, atau Anda sendiri yang kurang memperhatikan anak-anak. Kemungkinan anak memiliki keingintahuan yang besar mengenai berbagai hal, namun tidak mendapatkannya dari Anda. Mereka pun mencarinya lewat internet. Bukan tidak mungkin dengan sengaja atau tanpa sengaja mereka mengakses situs porno. Sebab kebanyakan situs tersebut gratis dan tidak memerlukan iuran keanggotaan.
18:37 WIB
KOMPAS.com - Kita mungkin memandang dengan penuh kasih anak-anak kita yang sedang tertidur pulas. Mereka seperti malaikat kecil yang tidak berdosa. Wajar kalau di usia 8 atau 9 tahun Anda masih menganggapnya anak-anak yang polos. Tetapi di balik keluguannya, anak-anak bisa jadi sudah tahu banyak hal yang tak akan Anda duga.
Data yang ditemukan oleh National Research Council pada tahun 2002, menunjukkan bahwa 20-30 persen anak berusia 8-17 tahun mengakses situs porno. Sedangkan hasil survei dari Indonesia tak jauh berbeda, bahkan lebih parah. Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek, menunjukkan bahwa 80 persen anak usia 9-12 telah mengakses materi pornografi dari media, terutama internet.
Keleluasaan anak dalam mengakses materi pornografi internet atau media lain, kebanyakan memang disebabkan kurangnya pengawasan di rumah akibat kedua orangtua sibuk bekerja. Bila Anda ingin tahu situs apa saja yang diakses anak, coba luangkan waktu untuk mengutak-atik komputer Anda. ''Cari tahu history situs yang mereka akses, atau file-file terakhir yang mereka unduh,'' terang psikolog keluarga dan remaja, Ratih Ibrahim, MM.
Anda tidak perlu langsung menyalahkan anak, teman-temannya, atau Anda sendiri yang kurang memperhatikan anak-anak. Kemungkinan anak memiliki keingintahuan yang besar mengenai berbagai hal, namun tidak mendapatkannya dari Anda. Mereka pun mencarinya lewat internet. Bukan tidak mungkin dengan sengaja atau tanpa sengaja mereka mengakses situs porno. Sebab kebanyakan situs tersebut gratis dan tidak memerlukan iuran keanggotaan.
Pria Ingin Bra dan Panty Anda Matching
Senin, 18/1/2010
14:18 WIB
KOMPAS.com - Counter pakaian dalam di department store umumnya menyediakan 1 set bra dan celana dalam (CD). Namun ternyata tidak semua perempuan memakai bra dan CD yang matching. Bisa saja bra yang dipakai dari merek terkenal, CD-nya merek abal-abal. Warna dan motifnya pun belum tentu sinkron. Bagi mereka, yang penting keduanya nyaman dipakai.
Ambil contoh Dede Ayu (31), yang mengaku tidak punya satu pun bra dan panty yang matching. "Soalnya kadang kalau beli, CD-nya enak dipakai, tapi bra-nya enggak. Atau sebaliknya," tutur karyawan sebuah perusahaan penerbitan ini.
Bagi perempuan yang lain, memakai bra dan CD yang matching justru suatu keharusan, atau setidaknya, selalu diusahakan matching. "Enggak pede kalau bra dan panty-nya belang-belonteng. Biasanya kalau beli bra saya tanya dulu ke counter pakaian dalamnya, ada CD-nya enggak? Kalau enggak ada, saya mencari bra lain yang ada pasangannya. Yang prioritas sih, bra-nya," seru Cynthia Dewi (31), seorang sekretaris.
Meskipun bra dan panty tentunya tidak terlihat saat Anda mengenakan pakaian lengkap, namun sebagian perempuan merasa hal tersebut mempengaruhi kenyamanan. "Walaupun dari luar enggak kelihatan, tapi di hati terasa nyaman. Jadi nambah pede aja," tukas Erika (29), staf marketing. "Tapi itu sugesti juga kali, ya?"
Ia sendiri sebenarnya tidak selalu mengenakan pasangan yang matching. Setelan yang 1 set dipakainya untuk acara tertentu, seperti menghadapi resepsi perkawinan, meeting, atau jalan-jalan resmi.
14:18 WIB
KOMPAS.com - Counter pakaian dalam di department store umumnya menyediakan 1 set bra dan celana dalam (CD). Namun ternyata tidak semua perempuan memakai bra dan CD yang matching. Bisa saja bra yang dipakai dari merek terkenal, CD-nya merek abal-abal. Warna dan motifnya pun belum tentu sinkron. Bagi mereka, yang penting keduanya nyaman dipakai.
Ambil contoh Dede Ayu (31), yang mengaku tidak punya satu pun bra dan panty yang matching. "Soalnya kadang kalau beli, CD-nya enak dipakai, tapi bra-nya enggak. Atau sebaliknya," tutur karyawan sebuah perusahaan penerbitan ini.
Bagi perempuan yang lain, memakai bra dan CD yang matching justru suatu keharusan, atau setidaknya, selalu diusahakan matching. "Enggak pede kalau bra dan panty-nya belang-belonteng. Biasanya kalau beli bra saya tanya dulu ke counter pakaian dalamnya, ada CD-nya enggak? Kalau enggak ada, saya mencari bra lain yang ada pasangannya. Yang prioritas sih, bra-nya," seru Cynthia Dewi (31), seorang sekretaris.
Meskipun bra dan panty tentunya tidak terlihat saat Anda mengenakan pakaian lengkap, namun sebagian perempuan merasa hal tersebut mempengaruhi kenyamanan. "Walaupun dari luar enggak kelihatan, tapi di hati terasa nyaman. Jadi nambah pede aja," tukas Erika (29), staf marketing. "Tapi itu sugesti juga kali, ya?"
Ia sendiri sebenarnya tidak selalu mengenakan pasangan yang matching. Setelan yang 1 set dipakainya untuk acara tertentu, seperti menghadapi resepsi perkawinan, meeting, atau jalan-jalan resmi.
Label:
info kesehatan,
info sex,
Kesehatan Sex
13 Januari 2010
Mau Jantung Sehat? "Ngeseks" Dua Kali Seminggu!
Senin, 11 Januari 2010
10:16 WIB
LONDON, KOMPAS.com — Manfaat seks bagi kesehatan memang tak terbantahkan. Buktinya, dari sekian banyak khasiat yang telah dipublikasikan, selalu ada studi baru yang mengungkap manfaat berhubungan intim.
Temuan terbaru yang dimuat American Journal of Cardiology ini, misalnya, menyatakan bahwa pria yang berhubungan seks sedikitnya dua kali seminggu dapat terhindar dari risiko penyakit jantung. Hasil studi itu menunjukkan, mereka yang berhubungan seks secara rutin memiliki 45 persen risiko lebih kecil mengidap penyakit jantung dibanding mereka yang berhubungan seks hanya sekali sebulan atau lebih sedikit.
Studi yang melibatkan 1.000 orang ini menunjukkan, seks memberi dampak protektif bagi jantung pria, tetapi penelitian tidak menguji apakah efek yang sama berlaku pada wanita.
Setiap tahun, sekitar 270.000 orang di Inggris menderita serangan jantung, dan penyakit jantung koroner menjadi pembunuh paling besar. Meski seks sudah lama diketahui sebagai aktivitas yang menguntungkan kesehatan mental dan fisik, tetapi masih sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan betapa seks rutin memberi manfaat besar bagi penyakit serius seperti jantung.
10:16 WIB
LONDON, KOMPAS.com — Manfaat seks bagi kesehatan memang tak terbantahkan. Buktinya, dari sekian banyak khasiat yang telah dipublikasikan, selalu ada studi baru yang mengungkap manfaat berhubungan intim.
Temuan terbaru yang dimuat American Journal of Cardiology ini, misalnya, menyatakan bahwa pria yang berhubungan seks sedikitnya dua kali seminggu dapat terhindar dari risiko penyakit jantung. Hasil studi itu menunjukkan, mereka yang berhubungan seks secara rutin memiliki 45 persen risiko lebih kecil mengidap penyakit jantung dibanding mereka yang berhubungan seks hanya sekali sebulan atau lebih sedikit.
Studi yang melibatkan 1.000 orang ini menunjukkan, seks memberi dampak protektif bagi jantung pria, tetapi penelitian tidak menguji apakah efek yang sama berlaku pada wanita.
Setiap tahun, sekitar 270.000 orang di Inggris menderita serangan jantung, dan penyakit jantung koroner menjadi pembunuh paling besar. Meski seks sudah lama diketahui sebagai aktivitas yang menguntungkan kesehatan mental dan fisik, tetapi masih sedikit bukti ilmiah yang menunjukkan betapa seks rutin memberi manfaat besar bagi penyakit serius seperti jantung.
Etika Bercinta
Sabtu, 9 Januari 2010
12:31 WIB
KOMPAS.com — Kata atau kalimat apa yang Anda katakan kepada pasangan saat akan mengajaknya bercinta? Apakah Anda juga mempersiapkan diri sebelum melakukan hubungan seksual? Hal-hal seperti ini memang terkesan kecil dan tak begitu penting sehingga sering diabaikan. Padahal, etika juga diperlukan dalam berhubungan seksual.
Masalahnya, etika bercinta tidak diajarkan di mana pun, bahkan tidak di kelas kepribadian sekalipun. Namun, sebenarnya mudah saja. Inti dari aturan bercinta sama, kok, seperti aturan lainnya, "perlakukan pasangan seperti Anda mengharapkan pasangan memperlakukan Anda".
Nah, sekarang coba bayangkan perlakuan apa yang Anda inginkan saat bercinta? Jika masih bingung juga, maka kami beri contekannya.
Bersih dan cantik
Bagaimana penampilan Anda saat hendak bercinta? Apakah berdandan cantik dan memakai pakaian menggoda? Atau hanya tampil seadanya dengan pakaian tidur yang kumal dan tidak rapi, bahkan belum atau tidak mandi atau tidak gosok gigi?
Tidakkah Anda berpikir pasangan akan memerhatikan hal-hal seperti ini dan akan melakukan hal yang sama? Anda mungkin sedang merasa bergairah. Namun, jika Anda tidak mau repot untuk membuat diri Anda menggairahkan, apakah cukup bijaksana mengajak pasangan bercinta? Melihat penampilan Anda, pasangan malah mungkin tidak tertarik untuk bercinta. Jika di depan orang banyak Anda merasa harus tampil rapi dan cantik, maka mengapa di depan pasangan tidak?
Jadi, jangan mulai menggoda untuk foreplay jika tubuh Anda masih bau makanan yang bisa menimbulkan bau napas tak sedap. Akan lebih baik jika Anda membersihkan badan dulu, mandi, dan kalau perlu memakai parfum kegemaran pasangan agar Anda tampil menggoda dan menggairahkan.
12:31 WIB
KOMPAS.com — Kata atau kalimat apa yang Anda katakan kepada pasangan saat akan mengajaknya bercinta? Apakah Anda juga mempersiapkan diri sebelum melakukan hubungan seksual? Hal-hal seperti ini memang terkesan kecil dan tak begitu penting sehingga sering diabaikan. Padahal, etika juga diperlukan dalam berhubungan seksual.
Masalahnya, etika bercinta tidak diajarkan di mana pun, bahkan tidak di kelas kepribadian sekalipun. Namun, sebenarnya mudah saja. Inti dari aturan bercinta sama, kok, seperti aturan lainnya, "perlakukan pasangan seperti Anda mengharapkan pasangan memperlakukan Anda".
Nah, sekarang coba bayangkan perlakuan apa yang Anda inginkan saat bercinta? Jika masih bingung juga, maka kami beri contekannya.
Bersih dan cantik
Bagaimana penampilan Anda saat hendak bercinta? Apakah berdandan cantik dan memakai pakaian menggoda? Atau hanya tampil seadanya dengan pakaian tidur yang kumal dan tidak rapi, bahkan belum atau tidak mandi atau tidak gosok gigi?
Tidakkah Anda berpikir pasangan akan memerhatikan hal-hal seperti ini dan akan melakukan hal yang sama? Anda mungkin sedang merasa bergairah. Namun, jika Anda tidak mau repot untuk membuat diri Anda menggairahkan, apakah cukup bijaksana mengajak pasangan bercinta? Melihat penampilan Anda, pasangan malah mungkin tidak tertarik untuk bercinta. Jika di depan orang banyak Anda merasa harus tampil rapi dan cantik, maka mengapa di depan pasangan tidak?
Jadi, jangan mulai menggoda untuk foreplay jika tubuh Anda masih bau makanan yang bisa menimbulkan bau napas tak sedap. Akan lebih baik jika Anda membersihkan badan dulu, mandi, dan kalau perlu memakai parfum kegemaran pasangan agar Anda tampil menggoda dan menggairahkan.
Langganan:
Postingan (Atom)




